Ammar Zoni Ungkap Fakta Rutan Salemba: Narkoba Ada di Mana-Mana Kayak Beli Kacang Goreng

04 April 2026, 08:35 WIB
Ammar Zoni Ungkap Fakta Rutan Salemba: Narkoba Ada di Mana-Mana Kayak Beli Kacang Goreng

Ammar Zoni membagikan pengalaman pahitnya selama menjalani masa tahanan di Rutan Salemba dalam sidang pembacaan pledoi. Ia mengaku terkejut dengan realita yang ditemukannya di dalam penjara, yang menurutnya jauh dari bayangan tempat rehabilitasi. Ammar menyebutkan bahwa lingkungan di dalam rutan justru dipenuhi oleh berbagai jenis narkotika yang sangat mudah didapat.

Ammar Zoni mengakui bahwa perjuangannya untuk lepas dari adiksi narkoba menjadi sangat berat karena faktor lingkungan tersebut. Ia harus berjuang melawan godaan yang muncul hampir setiap hari di tengah para tahanan lainnya. Kondisi ini menjadi tantangan besar baginya yang sedang berusaha untuk berubah menjadi pribadi yang lebih bersih dan sehat.

"Kemudian selama saya berlayar di Rutan Salemba, saya pikir Rutan Salemba itu halnya sama seperti rehabilitasi yang bebas dari narkoba. Ternyata di sanalah tempat sarangnya, semua jenis narkoba. Sungguh sangat berat, berat, berat banget untuk menghindari itu semua," ujar Ammar Zoni di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).

"Apalagi di sana narkoba pun rasanya seperti beli kacang goreng, mudah sekali didapat dengan harga yang relatif murah. 3 bulan sampai dengan 6 bulan, craving dan trigger pun muncul. Saya tahan, tahan. Namun apalah daya saya cuma hanya orang yang sakit, tidak berdaya terhadap adiksi saya," sambung Ammar Zoni.

Ammar menyadari bahwa keputusannya kembali menyentuh narkoba adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Ia tidak membela diri atas tindakannya tersebut, namun ia menekankan betapa sulitnya bertahan di lingkungan yang mayoritas adalah pemakai. Baginya, berada di dalam sel yang dikelilingi narkoba adalah sebuah ujian yang luar biasa berat.

"Saya tahu ini salah. Dengan semua peristiwa yang sudah terjadi, seharusnya sudah tidak ada lagi alasan saya masih menyentuh barang itu lagi, meskipun hanya sesekali. Karena itulah penyebab semua kesengsaraan saya ini, yang telah menghancurkan hidup saya sehancur-hancurnya. Namun bagaimana caranya saya harus menghindar dan berjuang melawan adiksi ini, di lingkungan yang hampir 90% adalah pemakai narkoba? Bahkan narkoba ada di mana-mana, hampir di setiap kamar sel," terangnya.

Dalam setiap ibadahnya, Ammar mengaku selalu memohon kekuatan agar bisa keluar dari lingkaran setan narkotika. Ia mengakui segala kesalahannya kepada diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat luas yang telah mempercayainya. Ammar merasa bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi hukum yang kini sedang dijalaninya.

"Selalu dalam setiap doa saya memohon agar diberi kekuatan untuk merubah apa yang dapat saya rubah, serta kebijaksanaan dalam mengetahui perbedaannya. Yang Mulia Majelis Hakim, saya akui saya bersalah. Saya bersalah kepada diri saya sendiri, saya bersalah kepada keluarga saya, kepada anak-anak saya, kepada orang-orang terdekat saya, dan semua orang yang percaya kepada saya. Saya bersalah dan saya sedang menjalani konsekuensi atas kesalahan saya," jelasnya.

Ammar menutup pembelaannya dengan memohon kesempatan kepada majelis hakim untuk membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa narkoba. Ia memiliki keinginan kuat untuk kembali berkarier di dunia seni dan menjadi contoh bagi generasi muda agar tidak terjerumus ke lubang yang sama.

"Izinkan saya untuk menunjukkan saya dapat berubah lebih baik tanpa narkoba. Kembali lagi ke masyarakat, kembali mengukir prestasi, mengukir karier di dunia seni tanpa narkoba, menjadi ayah tauladan bagi anak-anak saya, sekaligus menjadi contoh bagi generasi muda berikutnya. Saya meminta maaf kepada keluarga besar karena telah mencoreng nama baik keluarga," tutupnya.

Sumber : KapanLagi.com