Serangan Fitnah ke Rossa Disebut Sistematis, Pelaku Diberi Waktu Hapus Konten dan Minta Maaf
14 April 2026, 15:30 WIB
Kuas hukum Rossa tanggapi fitnah gagal operasi plastik dari akun-akun haters, diduga terstruktur dan sistematis untuk menjatuhkan reputasi.
Kasus fitnah yang menimpa Rossa diduga bukan sekadar ulah iseng netizen biasa. Tim kuasa hukum Rossa mengendus adanya gerakan yang terstruktur dan terkoordinir untuk menjatuhkan nama besar pelantun lagu "Tegar" tersebut di kancah hiburan tanah air.
Dugaan ini muncul karena pola unggahan dari puluhan akun media sosial tersebut memiliki kemiripan, baik dari segi konten maupun waktu penayangan. Hal ini memicu kecurigaan bahwa ada pihak tertentu yang membiayai gerakan ini.
"Dari yang saya lihat ini sudah terkoordinir dengan baik ya, saya duga atau diduga ini mungkin kompetitor-kompetitor yang tidak menyukai keberadaan Mbak Rossa yang masih terus tetap eksis ah seperti itu ya," ujar Natalia Rusli saat ditemui di daerah Darmawangsa, Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).
Menurut pengamatan tim hukum, para oknum ini menggunakan narasi yang sama untuk merusak citra Rossa. Mereka menduga ada pihak yang sengaja mendompleng nama besar sang Diva demi kepentingan tertentu atau sekadar mencari sensasi (pansos).
"Diduga ada yang mengkoordinir sehingga ini terorganisir dengan baik saya lihat kata-katanya template semuanya seperti itu," sambung Natalia Rusli.
Langkah somasi ini pun menjadi bentuk perlindungan bagi Rossa yang sudah berkarier selama puluhan tahun. Tim manajemen menilai serangan ini sudah masuk dalam tahap sistematis untuk menurunkan derajat sang artis.
"Yang berikutnya kita perlu tegaskan bahwa kenapa kita melakukan somasi hari ini karena ini sudah terkesan sistematis untuk menjatuhkan atau men-downgrade beliau sebagai seorang pesohor di tanah air. Jadi karena itu kita perlu melakukan ini," timpal M. Ikhsan Tualeka.
Meski demikian, pihak Rossa masih memberikan sedikit kelonggaran melalui somasi ini. Mereka berharap para pelaku yang mungkin hanya sekadar ikut-ikutan (FOMO) segera sadar dan menghapus konten negatif tersebut sebelum berhadapan dengan polisi.
Kesempatan ini diberikan agar netizen bisa belajar mengenai batasan dalam menggunakan media sosial. Pihak Rossa ingin memberikan edukasi bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh melanggar hak dan martabat orang lain.
"Kenapa kita tidak melakukan proses hukum atau pelaporan? Karena kita ingin memberikan kesempatan atau waktu kepada para netizen yang mungkin kurang paham bahwa yang dilakukan itu telah melanggar hukum," jelasnya.
"Atau kemudian dia cuma FOMO ikut-ikutan, atau kemudian dia menjadi bagian dari satu kelompok yang ingin menjatuhkan Mbak Rossa secara sistematis itu untuk segera men-take down kontennya dan juga menyampaikan permohonan maaf," pungkas Ikhsan Tualeka.